Halaman

Rabu, 29 Juli 2026

Kunjungan Lapangan TAPM Kabupaten Bengkayang ke Desa Sahan: Mengawal Perencanaan 2027 di Desa Adat yang Menjaga Kelestarian Alam dan Budaya

Pada Senin, 20 Juli 2026, Tim Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Bengkayang melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, dalam rangka monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa serta pendampingan perencanaan pembangunan tahun 2027. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan arah pembangunan desa tetap adaptif terhadap tantangan ekonomi, penguatan pelayanan dasar masyarakat, dan pelestarian potensi lokal yang menjadi identitas Desa Sahan. Tim terdiri atas Koordinator TAPM Kabupaten Bengkayang, Erwin, S.T., dan TAPM Kabupaten Bengkayang, Yudi Zulkarnain, M.Hut. Perjalanan dimulai pukul 07.00 WIB dari Bengkayang dan tiba di Desa Sahan sekitar pukul 09.30 WIB. Setibanya di lokasi, rombongan disambut oleh Sekretaris Desa Sahan dan Kepala Desa Sahan, setelah sebelumnya difasilitasi oleh Pendamping Lokal Desa Kecamatan Seluas, Wirnelia Wirvifa Ita, A.Md.

Desa Sahan merupakan salah satu desa strategis di wilayah Kecamatan Seluas dengan luas wilayah mencapai 102,26 km² dan jumlah penduduk sebanyak 4.532 jiwa, terdiri atas 2.344 laki-laki dan 2.188 perempuan. Wilayah administrasinya terbagi ke dalam enam dusun, yaitu Dusun Melayang, Dusun Nibung, Dusun Panjak, Dusun Malo, Dusun Sujah, dan Dusun Bagak. Sebagian besar masyarakat berasal dari Suku Dayak Bekatik dan Suku Dayak Bidoih (Riuk) yang hingga kini masih mempertahankan nilai-nilai adat, budaya, dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Nama "Sahan" sendiri berasal dari kata "Sahatn" dalam bahasa Dayak Riuk yang berarti tembawang, yaitu kawasan kebun buah warisan leluhur yang menjadi simbol hubungan erat masyarakat dengan alam. Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi, TAPM memfasilitasi pembahasan mengenai perencanaan pembangunan Desa Tahun 2027, pelaksanaan Rembug Stunting sebagai langkah pencegahan munculnya kasus stunting baru, penguatan program ketahanan pangan, serta strategi efisiensi pembangunan sarana dan prasarana desa sebagai respons terhadap meningkatnya biaya pembangunan akibat inflasi. Pemerintah desa didorong agar tetap mengoptimalkan Dana Desa sesuai prioritas nasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Keunggulan Desa Sahan tidak hanya terletak pada tata kelola pemerintahannya, tetapi juga pada kekayaan alam yang masih terpelihara. Desa ini telah dikenal sebagai Desa Wisata Sahan yang menawarkan perpaduan antara wisata alam, budaya, dan konservasi. Salah satu aset terpentingnya adalah Hutan Adat Pikul, kawasan hutan adat yang keberadaannya telah ditetapkan melalui SK Bupati Bengkayang Nomor 131 Tahun 2002 dan diperkuat oleh Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.1300/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/3/2018. Kawasan ini dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat adat sebagai kawasan konservasi yang berfungsi untuk penelitian, pendidikan, perlindungan, budaya, dan pengembangan sumber daya alam berkelanjutan.
Hutan Adat Pikul menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka, antara lain Rafflesia tuan-mudae, beragam spesies anggrek hutan, kantong semar, pasak bumi, puluhan jenis jamur langka, kupu-kupu endemik, burung enggang, burung ruai, owa, kubung, hingga kodok tanduk. Kekayaan hayati tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui aturan adat yang masih dihormati hingga sekarang. Selain itu, Desa Sahan juga memiliki Rumah Adat Baluk, rumah adat khas Dayak Bidayuh yang berbentuk bundar dengan diameter sekitar enam meter dan tinggi mencapai dua belas meter. Bangunan yang ditopang enam belas tiang kayu ini menjadi simbol filosofi kehidupan masyarakat adat sekaligus daya tarik budaya yang unik di Kabupaten Bengkayang. Bersama potensi pegunungan, sumber mata air, perkebunan karet, pertanian sayur, dan kekayaan biodiversitasnya, Desa Sahan memiliki modal besar untuk mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat melalui pengelolaan BUM Desa yang bersinergi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Desa Sahan juga dikenal melalui produk unggulan mentega tengkawang yang diolah secara tradisional oleh masyarakat adat dari buah tengkawang yang dipanen di hutan adat. Produk alami tanpa bahan pengawet tersebut telah menembus pasar internasional, termasuk Prancis, Belanda, dan Korea, menjadi bukti bahwa pelestarian hutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Kunjungan lapangan berakhir pada pukul 14.30 WIB. Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, TAPM Kabupaten Bengkayang berharap Desa Sahan terus menjadi contoh desa yang mampu mengintegrasikan tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan yang berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian adat dan lingkungan. Desa Sahan menunjukkan bahwa kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari keberhasilan menjaga warisan budaya, kekayaan alam, dan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Kamis, 28 Mei 2026

Profil TPP Kabupaten Bengkayang


 

Profil TPP P3MD Kabupaten Bengkayang

Mendampingi Desa, Membangun Kemandirian dari Akar Rumput

Sejak terbentuk pada tahun 2015, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Bengkayang hadir sebagai garda terdepan dalam mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Kehadiran TPP menjadi jawaban atas kebutuhan nyata desa akan pendampingan yang berkelanjutan, partisipatif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Melalui perannya, TPP Bengkayang terus memastikan agar setiap tahapan pembangunan desa berjalan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kemandirian. Pendampingan tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan kelembagaan desa.


Berlandaskan Regulasi dan Profesionalisme

Dalam menjalankan tugasnya, TPP berpedoman pada Permendesa PDTT Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pedoman Umum Pendampingan Masyarakat Desa, yang menjadi panduan utama bagi seluruh tenaga pendamping di Indonesia. Regulasi ini berpijak pada landasan hukum yang lebih tinggi, yaitu Undang-Undang Desa dan Peraturan Pemerintah yang mengatur penyelenggaraan pembangunan desa.

Selain itu, Permendesa PDTT Nomor 19 Tahun 2020 mewajibkan setiap tenaga pendamping profesional memiliki sertifikasi kompetensi yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Ketentuan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan mutu dan profesionalitas para pendamping agar lebih siap menjawab tantangan pembangunan di tingkat desa.


Struktur dan Komposisi TPP Bengkayang Tahun 2025

Memasuki tahun 2025, TPP Kabupaten Bengkayang dipimpin oleh Erwin, S.T. selaku Koordinator Kabupaten (Koorkab). Beliau memimpin tim yang solid dengan dukungan lima Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), yaitu:

  • Syarifah Lia Malini Sari, M.Kn.
  • Nanang Yunani, S.P.
  • Yudi Zulkarnain, M.Hut.
  • Eliza, S.Sos.
  • Tritis Lugiyarti, S.T.

Kelima tenaga ahli tersebut berperan penting dalam merancang strategi, memberikan asistensi teknis, serta memperkuat kapasitas para pendamping desa di lapangan. Mereka bekerja bersama 27 Pendamping Desa (PD) dan 24 Pendamping Lokal Desa (PLD) yang tersebar di 17 kecamatan dan 122 desa di seluruh wilayah Kabupaten Bengkayang.


Tantangan dan Semangat yang Tak Pernah Padam

Meski telah berjalan optimal, formasi TPP Bengkayang saat ini masih menghadapi keterbatasan jumlah personel, dengan kekurangan 7 orang PD dan 12 orang PLD. Namun, kondisi ini tidak mengurangi semangat juang seluruh pendamping dalam menjalankan tugasnya.

Dengan kerja sama yang solid antara tenaga ahli, pendamping desa, dan pemerintah daerah, TPP Bengkayang terus berkomitmen untuk mewujudkan desa-desa yang mandiri, maju, dan berdaya saing. Semangat kolaboratif dan dedikasi tinggi menjadi modal utama dalam menggerakkan pembangunan yang berpihak pada masyarakat.

“Pendampingan bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi panggilan untuk hadir, mendengar, dan membantu desa menemukan kekuatannya sendiri.”
Erwin, S.T., Koordinator Kabupaten TPP Bengkayang


Menatap ke Depan: Desa Berdaya, Bengkayang Maju

Keberadaan TPP Kabupaten Bengkayang menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi pembangunan desa di era modern. Dengan pendekatan berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, para pendamping berperan bukan hanya sebagai fasilitator pembangunan, tetapi juga sebagai mitra belajar bagi desa.

TPP Bengkayang percaya bahwa kemajuan desa adalah kunci utama bagi kemajuan daerah. Dengan semangat “Dari Desa untuk Indonesia Maju”, para pendamping profesional akan terus bekerja bersama masyarakat, menumbuhkan kemandirian, dan membangun harapan dari akar rumput di seluruh penjuru Bengkayang.
#DesaBisa
#TppBengkayang
#BumiSebalo

KDMP "Lahirnya Sebuah Program Strategis"

 

Sosialisasi Koperasi Merah Putih di Bengkayang

SOSIALISASI KOPERASI MERAH PUTIH DI BENGKAYANG: MENDORONG KEMANDIRIAN EKONOMI DESA

• 13 Oktober 2025   |   Admin
Sosialisasi Koperasi Merah Putih di Aula Rangkaya Bengkayang
Suasana pembukaan Sosialisasi Program Koperasi Merah Putih di Aula Rangkaya, Kantor Bupati Bengkayang. (Foto: Dok. TPP Bengkayang)

Sebagai wujud dukungan terhadap Program Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi rakyat, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Program Koperasi Merah Putih (KMP) di Aula Rangkaya, Kantor Bupati Bengkayang, pada Senin, 13 Oktober 2025.

Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 14.30 WIB dan dihadiri sekitar 500 peserta, terdiri atas 400 pria dan 100 wanita. Peserta merupakan unsur pemerintah daerah, pelaku usaha, pengurus koperasi, serta masyarakat umum dari Kabupaten Bengkayang dan sekitarnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Bupati Bengkayang, Bapak Sebastianus Darwis, S.E., M.M., Bupati Landak, Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang, serta para kepala desa, lurah, tenaga pendamping profesional, dan pengurus Koperasi Merah Putih se-Kabupaten Bengkayang. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat gerakan koperasi desa sebagai basis ekonomi rakyat.

Jalannya Kegiatan

Rangkaian acara dimulai dengan registrasi peserta dan penyerahan berkas pembukaan rekening bank oleh panitia sebagai bagian dari persiapan administratif koperasi. Kegiatan kemudian dibuka secara resmi dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari sejumlah tokoh penting.

Peserta sosialisasi koperasi merah putih mengikuti materi Narasumber menyampaikan materi dari BUMN
Para peserta antusias mengikuti sesi sosialisasi bersama narasumber dari Pertamina, Bulog, Bank Mandiri, Telkom Indonesia, dan mitra BUMN lainnya.

Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan Kepala Dinas Koperasi Provinsi Kalimantan Barat, yaitu Ibu Ir. Evi T. Agustina Silalahi, M.S.E., yang menekankan pentingnya sinergi antarkoperasi desa agar mampu memanfaatkan peluang kemitraan dengan BUMN dan lembaga keuangan nasional.

Selanjutnya, Bupati Bengkayang, Bapak Sebastianus Darwis, S.E., M.M., dalam sambutannya mengajak seluruh pengurus dan pengawas Koperasi Merah Putih untuk menanamkan nilai gotong royong dan profesionalisme dalam mengelola koperasi. Ia juga menegaskan bahwa koperasi harus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi lokal dan membuka lapangan kerja baru di desa.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Anggota Komisi V DPR RI, Bapak Yuliansyah, S.E., yang sekaligus menjadi penggagas kegiatan ini. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa keberadaan Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi nasional yang dimulai dari desa.

“Koperasi Merah Putih jangan hanya berdiri di atas kertas, tetapi harus hidup dan berdenyut melalui aktivitas ekonomi anggotanya. Pemerintah akan terus mendorong kemitraan koperasi dengan BUMN dan perbankan agar gerai koperasi benar-benar aktif dan produktif.” — Yuliansyah

Pemaparan Materi dan Mitra Strategis

Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh sejumlah narasumber dari instansi dan BUMN strategis, antara lain:

  • Pertamina Kalimantan Barat
  • BULOG Kalimantan Barat
  • Bank Mandiri Kalimantan Barat
  • PT Pupuk Indonesia (Persero)
  • Perwakilan Injourney Wilayah Kalimantan Barat
  • PT Telkom Indonesia
  • Perum Angkasa Pura II

Para narasumber menjelaskan peluang kemitraan koperasi desa dalam distribusi kebutuhan pokok, akses permodalan, serta dukungan teknologi informasi dan promosi produk lokal.

Pertamina menjelaskan kebijakan kuota gas elpiji untuk koperasi, BULOG memaparkan mekanisme penyaluran beras dan program kemitraan pangan, sedangkan Bank Mandiri menerangkan skema pembiayaan yang hanya dapat diakses melalui kerja sama koperasi dengan BUMN yang telah ditunjuk, serta penggunaan Dana Desa sebagai jaminan pinjaman.

PT Pupuk Indonesia membuka peluang kerja sama penjualan berbagai jenis pupuk dengan skema fleksibel. Ketua Koperasi Desa Ansang, Kecamatan Menyuke, menanyakan kemungkinan pendirian gudang pupuk di desa tetangga yang lebih aman dari banjir — dan mendapat tanggapan positif.

Kepala Desa Salatiga menanyakan peluang kerja sama dengan BULOG terkait penggilingan padi, sementara Ketua Koperasi Hilir Tengah, Kecamatan Ngabang, mengeluhkan kuota beras yang hanya 2 ton per bulan.

Dari sisi infrastruktur, perwakilan Telkomsel menanggapi permohonan pembangunan tower penguat sinyal di Desa Amboyo Selatan, serta berjanji membantu pendampingan digitalisasi usaha koperasi. Sementara PT Angkasa Pura Aviasi melalui divisi CSR menyatakan siap mendukung pengembangan wisata desa melalui pelatihan dan promosi destinasi wisata lokal.

Penutup dan Harapan

Menutup kegiatan, Yuliansyah menegaskan kembali bahwa Koperasi Merah Putih harus menjadi instrumen nyata dalam menggerakkan ekonomi rakyat. Ia mengimbau agar pengurus koperasi meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas lembaga melalui pemanfaatan aplikasi SIMKOPDES.

“Kita ingin Koperasi Merah Putih tidak hanya berdiri secara administratif, tapi benar-benar menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat di desa. Melalui kemitraan dengan BUMN dan dukungan penuh pemerintah daerah, kita bisa wujudkan kemandirian ekonomi rakyat.” — Yuliansyah
Foto bersama peserta dan narasumber kegiatan koperasi merah putih
Foto bersama peserta, narasumber, dan pejabat daerah usai kegiatan sebagai simbol sinergi membangun ekonomi desa berbasis koperasi.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan seluruh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih se-Kabupaten Bengkayang semakin solid, profesional, dan mampu menjadi wadah pemberdayaan ekonomi yang mandiri serta berkelanjutan.

© 2025 | Portal Koperasi Merah Putih Bengkayang
Desain & Konten oleh Tim Publikasi TPP Kabupaten Bengkayang

Potensi Desa Bhakti Mulya

 

Profil Desa Bhakti Mulya

Luas: 1.485,59 Ha
Penduduk: 2.082 jiwa (2024)
KK: 679
Senja di Bukit Jamur

Tentang Desa Bhakti Mulya

Desa Bhakti Mulya terletak di perbukitan Kecamatan Bengkayang, Kalimantan Barat, dengan koordinat 0°47′15.50″ LU, 109°28′27.23″ BT. Desa ini memiliki luas 1.485,59 hektare dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan pelaku usaha kecil menengah. Secara administratif terdiri atas empat dusun: Belangko, Pakeng, Jaku, dan Sabide

Desa Bhakti Mulya adalah sebuah desa di Kecamatan Bengkayang, Kalimantan Barat, yang memiliki karakteristik topografi dataran tinggi berbukit-bukit dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Desa ini memiliki 4 dusun, yaitu Dusun Belangko, Dusun Pakeng, Dusun Jaku, dan Dusun Sabide. Selain itu, desa ini juga dikenal dengan potensi wisatanya, seperti Bukit Jamur, yang menawarkan keindahan alam dan keanekaragaman hayati. 

Informasi umum

  • Lokasi: Kecamatan Bengkayang, Kalimantan Barat.
  • Batas wilayah: Kelurahan Bumi Emas (utara), Desa Semade (selatan), Desa Dharma Bhakti (timur), dan Desa Tirta Kencana (barat).
  • Topografi: Dataran tinggi, berbukit-bukit, dan memiliki bantaran sungai.
  • Mata pencaharian utama: Petani.
  • Jumlah: 679 kepala keluarga dan 2.082 jiwa.

Dusun: 4 dusun (Belangko, Pakeng, Jaku, Sabide).

Potensi Wisata Alam & Budaya

Bukit Jamur menjadi ikon wisata alam Desa Bhakti Mulya dengan pesona padang ilalang, udara sejuk, dan panorama puncak awan. Selain itu, wisata agro seperti petik buah durian, jeruk, jambu, dan alpukat menawarkan pengalaman edukatif dan rekreasi keluarga. Tradisi Nyantu' Durian dan kerajinan bambu turut memperkaya budaya lokal. 

Potensi Wisata Alam

Menawarkan pemandangan alam yang indah dan menjadi lokasi untuk aktivitas seperti trekking dan fotografi. 

  • Keanekaragaman Hayati: 

Menjadi habitat bagi berbagai jenis flora yaitu tengkawang tungkul, buah barante yang hanya ada di beberapa kecamatan di kabupaten bengkayang, termasuk anggrek liar dan tanaman obat, serta fauna seperti burung dan kupu-kupu. 

Potensi Budaya

  • Kerajinan Bambu: 

Masyarakat desa masih melestarikan tradisi menganyam bambu untuk membuat produk fungsional dan bernilai budaya seperti bakul (keranjang), nyiruk (alat pembersih beras), dan bubu (perangkap ikan). 

Tradisi kuliner unik yang melibatkan makan durian langsung di Bukit Jamur, menawarkan pengalaman petualangan kuliner. 

  • Berburu dengan Sumpit: 

Tradisi berburu yang mengandalkan keterampilan tradisional masyarakat setempat. 

Potensi Kuliner

  • Cucur Manis: Kudapan tradisional yang manis dan lembut dengan cita rasa khas. 
  • Pisang Goreng: Lebih dari sekadar camilan, pisang goreng di sini memiliki makna tradisi dan menjadi simbol keakraban. 

Jelajahi Surga Buah di Desa Wisata Bhakti Mulya: Petik Buah Segar Langsung dari Pohonnya!

 

Rasakan sensasi memetik buah segar langsung dari pohonnya di Desa Wisata Bhakti Mulya! Terletak di Bengkayang Regency, West Kalimantan, desa ini menawarkan wisata agro yang unik dan menyenangkan bagi seluruh keluarga.

 

Beragam jenis buah-buahan menanti untuk dipetik dan dinikmati, mulai dari jambu air, jambu biji mutiara, jeruk manis, jeruk sambal, durian unggul, alpukat, mangga, hingga lengkeng. Bayangkan aroma harum dan rasa manis segar buah-buahan yang baru dipetik, langsung dari alam!

 

Lebih dari sekadar wisata petik buah, Desa Wisata Bhakti Mulaya menawarkan pengalaman edukatif dan interaktif. Pengunjung dapat belajar tentang budidaya buah yang baik dan benar, serta mengenal berbagai jenis tanaman buah yang ada di desa.
#DesaBisa
#BumiSebalo



Kontak & Informasi

Kantor Desa Bhakti MulyaKecamatan BengkayangKalimantan Barat


Profil Pendamping Kecamatan Siding

 

🌾 Potret Kecamatan Siding dan Dinamika Pendampingan Desa oleh TPP

“Mendampingi dari perbatasan, membangun dari akar rumput.”


Kecamatan Siding merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Kabupaten Bengkayang, dengan luas mencapai 563,30 km², atau sekitar 10,44 persen dari total luas kabupaten. Secara geografis, wilayah ini berada pada posisi 1°33’00’’ hingga 1°30’00’’ Lintang Utara dan 109°39’00” hingga 110°10’00” Bujur Timur.

Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten Bengkayang mencapai lebih dari 100 kilometer, dengan waktu perjalanan 4 hingga 6 jam, tergantung kondisi cuaca dan akses jalan.

Topografi Kecamatan Siding didominasi oleh perbukitan dan lembah curam, dengan tekstur tanah halus hingga sedang, serta sebagian besar wilayahnya berada pada kemiringan lereng 0–14 persen. Kondisi ini membuat sebagian besar akses jalan antar desa cukup menantang, terutama di musim hujan, ketika jalan tanah menjadi licin dan sulit dilalui kendaraan roda empat. Di beberapa desa seperti Sungkung 1 hingga Sungkung 3, mobilitas masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan roda dua dan jalan setapak yang menembus hutan perbatasan.

Secara administratif, Kecamatan Siding berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia di sebelah utara, Kabupaten Landak di timur, Kabupaten Sanggau di selatan, dan Kecamatan Seluas di barat. Kondisi geografis yang berbatasan langsung dengan negara lain membuat Siding memiliki posisi strategis sekaligus tantangan tersendiri dalam pembangunan. Jarak antardesa yang cukup jauh serta sebaran permukiman yang sporadis menyebabkan proses pelayanan pemerintahan dan pendampingan pembangunan memerlukan strategi khusus dan ketekunan lapangan.

Kecamatan Siding terdiri atas 8 desa, yakni Hli Buei, Tangguh, Siding, Tamong, Tawang, Sungkung 1, Sungkung 2, dan Sungkung 3. Di antara desa-desa tersebut, Desa Tawang memiliki wilayah terluas (133,51 km² atau 23,7 persen dari total luas kecamatan), sedangkan Desa Sungkung 1 merupakan desa dengan luas terkecil (35,55 km²). Namun, Sungkung 1 justru memiliki kepadatan penduduk tertinggi, yaitu 37 jiwa per kilometer persegi, menandakan adanya konsentrasi permukiman yang lebih padat dibanding desa lainnya.


👥 Dinamika Sosial dan Ekonomi Masyarakat

Jumlah penduduk Kecamatan Siding pada tahun 2023 mencapai 8.431 jiwa, terdiri dari 4.401 laki-laki dan 4.030 perempuan, dengan rasio jenis kelamin sekitar 110:100.
Masyarakat Siding dikenal memegang kuat nilai-nilai adat, gotong royong, dan kekerabatan. Aktivitas ekonomi mereka masih bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan, dengan komoditas hortikultura seperti ketimun, cabai, dan sayuran dataran tinggi sebagai hasil utama.
Produksi ketimun pada tahun 2023 tercatat 182 kuintal, menunjukkan potensi agrikultur yang menjanjikan bila disertai dukungan infrastruktur dan akses pasar yang memadai.

Namun, medan geografis yang berat dan jarak dari pusat ekonomi menimbulkan kendala dalam transportasi hasil pertanian serta akses terhadap layanan dasar. Beberapa desa masih sulit dijangkau jaringan listrik dan sinyal telekomunikasi. Hal ini menjadi tantangan nyata bagi Tenaga Pendamping Profesional (TPP) yang setiap hari harus turun ke lapangan untuk memastikan program pembangunan desa tetap berjalan sesuai prinsip partisipatif dan berkelanjutan.


Sejak tahun 2015, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Siding hadir sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa melalui program P3MD (Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa).

TPP berperan dalam memastikan setiap tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembangunan desa berjalan secara transparan, akuntabel, dan berkeadilan.

Memasuki tahun 2025, TPP Kecamatan Siding dipimpin oleh Yusuf, A.Md. selaku Koordinator Kecamatan (Koorcam), bersama Stepanus Misoel Haba, A.Md. sebagai pendamping desa. Meskipun jumlah personel masih terbatas dan terdapat kekurangan tiga orang Pendamping Lokal Desa (PLD), semangat kerja tim tidak surut. Mereka terus menjalankan tugas dengan dedikasi tinggi di tengah medan lapangan yang berat dan keterbatasan fasilitas.


🌱 Pendampingan yang Menguatkan Akar

Pendampingan di Kecamatan Siding tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kelembagaan desa, peningkatan kapasitas perangkat, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelatihan serta fasilitasi usaha produktif.
Para pendamping sering kali harus menempuh jalan berlumpur, menyeberangi sungai kecil, bahkan mendaki bukit untuk mencapai desa binaan. Namun, bagi mereka, tantangan itu merupakan bagian dari pengabdian.

Pendampingan dilaksanakan berdasarkan Permendesa PDTT Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pedoman Umum Pendampingan Masyarakat Desa, serta Permendesa PDTT Nomor 19 Tahun 2020 tentang Sertifikasi Kompetensi Pendamping Profesional. Kedua regulasi ini menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa pendamping bekerja secara profesional, berkompeten, dan beretika.

Keterbatasan jumlah PLD memang berdampak pada beban kerja yang cukup tinggi, di mana satu pendamping harus mengawal beberapa desa sekaligus, melakukan monitoring pembangunan, mendampingi musyawarah desa, serta menyusun laporan perkembangan pelaksanaan Dana Desa secara berkala. Meski begitu, koordinasi yang baik antara TPP, pemerintah kecamatan, dan perangkat desa membuat seluruh proses tetap berjalan efektif dan tepat sasaran.


💬 Pesan dari Koordinator Kecamatan

Koordinator Kecamatan Siding, Yusuf, A.Md., menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pendampingan bukan semata dari bangunan yang berdiri, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk mandiri dan mengelola hasil pembangunan.

“Pendampingan bukan hanya tentang hadir di lapangan, tetapi tentang menumbuhkan keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Kami datang bukan untuk mengatur, tapi untuk mendengar, memfasilitasi, dan berjalan bersama masyarakat.”
Yusuf, A.Md., Koordinator TPP Kecamatan Siding


🌄 Menatap ke Depan: Dari Desa untuk Indonesia Maju

Dengan semangat tersebut, TPP Kecamatan Siding terus berkomitmen untuk mewujudkan desa berdaya, mandiri, dan berkelanjutan, meski dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan infrastruktur. Mereka percaya bahwa pembangunan sejati lahir dari akar rumput — dari masyarakat yang terlibat, belajar, dan tumbuh bersama.

Ke depan, TPP Kecamatan Siding menatap masa depan dengan optimisme baru. Melalui kolaborasi antara tenaga ahli, pemerintah daerah, dan masyarakat desa, diharapkan pembangunan di wilayah perbatasan ini akan semakin inklusif dan berkeadilan. Dengan semangat “Dari Desa untuk Indonesia Maju”, para pendamping profesional di Siding akan terus melangkah, menguatkan akar-akar kemandirian, dan membangun harapan di perbatasan negeri.

Kunjungan Lapangan TAPM Kabupaten Bengkayang ke Desa Sahan: Mengawal Perencanaan 2027 di Desa Adat yang Menjaga Kelestarian Alam dan Budaya

Pada Senin, 20 Juli 2026, Tim Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Bengkayang melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Sahan,...